🇮🇩 Viral! Brand New York Dituding Caplok Motif Batik, Dijual Mahal tapi Dinamai "Cetakan Abstrak"
Jakarta – Dunia fashion kembali dihebohkan dengan isu apropriasi budaya. Kali ini, sebuah merek asal New York, Amerika Serikat, menjadi sorotan warganet Asia Tenggara. Pasalnya, sebuah kemeja dalam koleksi terbarunya dinilai memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan motif batik khas Indonesia, khususnya dari Yogyakarta. Kemarahan semakin memuncak karena brand tersebut hanya menyebut desainnya sebagai "kemeja cetakan abstrak" atau Printed Abstract Shirt, tanpa memberikan kredit pada asal-usul budaya yang menginspirasinya.
🧐 Kronologi dan Kemiripan Motif
Kontroversi bermula dari rilis koleisi Spring/Summer 2026 milik brand Aime Leon Dore. Di antara koleksi yang terinspirasi dari pakaian teknis luar ruangan dan gaya tahun 80-90an ini, sebuah atasan dengan harga yang cukup fantastis, yaitu Rp3,9 juta, langsung mencuri perhatian. Pola pada kemeja tersebut dinilai sangat identik dengan motif batik tambal yang berasal dari Yogyakarta.
Warganet dengan cepat membanjiri media sosial dengan kritik. Mereka menyayangkan mengapa brand global sekelas itu tidak melakukan riset atau setidaknya memberikan apresiasi dengan menyebutkan sumber inspirasinya. "Yang menyedihkan adalah semuanya bisa jauh lebih baik jika mereka menyebutkan atau memberikan kredit dengan tepat (menyebut motif batik)," tulis seorang pengguna X.
📜 Makna Sakral di Balik Motif Tambal
Kekhawatiran warganet bukan tanpa alasan. Motif batik tambal bukan sekadar pola geometris biasa. Berdasarkan informasi dari laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, motif ini memiliki filosofi yang dalam dalam budaya Jawa.
Aspek Makna Filosofis Batik Tambal
Bentuk Visual Tersusun dari berbagai pola kecil yang disusun menjadi satu kesatuan, menyerupai "tambalan".
Makna Simbolis Melambangkan harapan untuk penyembuhan, perbaikan kehidupan, dan pemulihan dari kesulitan, baik fisik maupun batin.
Penggunaan Tradisional Di masa lalu, kain dengan motif ini kerap digunakan untuk menyelimuti orang sakit karena dipercaya membawa energi penyembuhan.
Dengan latar belakang sakral seperti ini, menyebut pola tersebut sebagai sekadar "abstrak" dianggap sebagai bentuk penghinaan dan peremehan terhadap nilai budaya yang agung. Seorang warganet dengan tegas menyatakan, "Meremehkan signifikansi tekstil, budaya, dan tradisionalnya dengan menyebutnya sebagai 'kemeja cetakan abstrak' adalah penghinaan yang sangat besar."
🔍 Konteks Koleksi dan Respons Publik
Menurut publikasi mode Hypebeast, koleksi Aime Leon Dore ini secara keseluruhan memang menonjolkan "tekstur yang kaya dan pola yang berani." Namun, pernyataan tersebut tidak cukup untuk meredam kekecewaan. Banyak yang menilai tindakan ini sebagai contoh nyata dari apropriasi budaya, di mana sebuah elemen budaya diambil, digunakan, dan dikomersialkan tanpa pemahaman, pengakuan, atau penghormatan terhadap asal-usulnya.
🌏 Bukan Kali Pertama
Ini bukan pertama kalinya merek global menghadapi isu serupa. Di masa lalu, rumah mode seperti Louis Vuitton dan Christian Dior juga pernah dituding menjiplak motif batik. Menariknya, dalam kasus Dior, pihak brand saat itu menyebut desainnya terinspirasi dari wax print Afrika, bukan batik. Hal ini menunjukkan betapa kaburnya garis antara inspirasi dan apropriasi, serta pentingnya riset dan penghargaan terhadap kekayaan budaya dunia, termasuk Indonesia.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi para desainer global untuk lebih sensitif dan menghargai sumber inspirasi mereka, terutama ketika budaya tersebut memiliki nilai sejarah dan filosofi yang mendalam seperti batik Indonesia.
